Beberapa hari terakhir ini gw sering mikir…
kenapa ya, makin ke sini gw justru makin tertarik sama hal-hal yang nggak aman-aman amat?
Dulu, soal rasa, gw tipe orang yang main selamat.
Kalau pie susu ya Grosir pie susu original Murah.
Manis, lembut, familiar.
Udah tau rasanya gimana, nggak ada drama.
Sampai suatu sore, gw duduk santai sambil buka satu kotak Pie Susu Dhian.
Dan di situ tertulis jelas: rasa durian.
Reaksi pertama?
Gw ketawa kecil.
Ini seriusan? Pie susu ketemu durian?
Durian itu kan buah yang dari dulu selalu punya kubu.
Yang cinta, cinta mati.
Yang nggak suka, benci tanpa kompromi.
Dan anehnya, Pie Susu Dhian malah berani ngajak dua dunia ini ketemu di satu gigitan.
Bukan buat cari ribut.
Tapi kayak pengen bilang,
“Coba dulu. Jangan nge-judge keburu.”

Waktu kotaknya dibuka, aroma duriannya nggak nyerang.
Ini bukan durian yang teriak-teriak minta diperhatiin.
Lebih ke wangi creamy yang kalem, tapi jelas identitasnya.
Kayak orang yang udah pede sama dirinya sendiri.
Nggak perlu banyak pembuktian.
Kulit pie-nya masih khas Pie Susu Dhian.
Tipis, renyah, dan nggak bikin enek.
Begitu digigit, teksturnya pecah pelan, lalu isian duriannya muncul pelan-pelan juga.
Dan di situ gw baru ngeh.
Ini bukan soal durian atau bukan.
Ini soal keseimbangan.
Rasa duriannya nggak lebay.
Nggak bikin dahi langsung berkerut.
Manisnya masih sopan, susu-nya masih dapet, durian-nya hadir sebagai karakter, bukan penguasa.
Kayak ngobrol sama orang yang punya cerita panjang, tapi tau kapan harus berhenti ngomong.
Dan anehnya, setelah gigitan kedua, gw mulai santai.
Nggak mikir lagi, “Ini cocok nggak ya?”
Tapi lebih ke,
“Oh… ternyata bisa ya begini.”
Gw jadi kepikiran,
kadang kita terlalu sering nolak hal baru cuma karena takut nggak cocok.
Padahal belum tentu nggak cocok, bisa jadi kita cuma belum kenal.
Pie Susu Dhian rasa durian ini tuh kayak itu.
Bukan buat semua orang, tapi juga nggak eksklusif.
Dia jujur sama rasanya, tapi tetap sopan.
Dan itu bikin pengalaman makannya terasa… dewasa.
Yang menarik, pie ini bukan tipe yang langsung habis dalam satu duduk.
Bukan karena nggak enak.
Justru karena rasanya ngajak pelan-pelan.
Satu potong, berhenti.
Minum.
Ngobrol.
Terus lanjut lagi.
Kayak kita lagi belajar menikmati, bukan ngebut.
Sebagai oleh-oleh khas Bali, versi durian ini punya karakter yang kuat.
Bukan cuma buat dibawa pulang, tapi buat diceritain.
Biasanya orang bawa pie susu terus bilang,
“Ini oleh-oleh dari Bali.”
Tapi yang ini, ceritanya bisa panjang.
“Ini pie susu, tapi rasa durian. Ternyata enak. Ternyata nyambung.”
Dan obrolan pun jalan.
Gw ngerasa, Pie Susu Dhian rasa durian ini bukan sekadar varian rasa.
Tapi representasi keberanian buat beda tanpa harus jadi aneh.
Kayak hidup juga sih.
Kadang kita pengen berubah, tapi takut kehilangan versi lama.
Padahal, yang baru nggak selalu ngilangin yang lama.
Kadang cuma nambah lapisan.
Di akhir, pertanyaannya balik ke diri masing-masing:
berani coba atau nggak?
Kalau lo tipe yang pengen aman terus, mungkin ini bukan pilihan pertama.
Tapi kalau lo lagi pengen nyobain sesuatu yang beda, tapi tetap berkelas, ini layak dicoba.
Dan kalau pun ternyata bukan favorit lo, setidaknya lo udah pernah berani.
Menurut gw, itu juga progress.
Karena kadang, yang bikin hidup nggak flat itu bukan drama besar,
tapi keberanian kecil buat nyobain rasa baru.
Dan Pie Susu Dhian rasa durian…
punya cerita itu.
