Riset Singkat: Siapa Pembeli Pie Susu Dhian dan Apa Motivasi Mereka?

Beberapa minggu terakhir ini gue sering mikir…
kenapa ya Pie Susu Dhian itu selalu laris meskipun persaingan pie susu di Bali makin rame?
Gue lihat sendiri, toko-toko pie susu baru muncul kayak jamur habis hujan. Model packaging makin kreatif, rasa makin variatif, promo makin gila-gilaan.

Tapi Pie Susu Dhian?
Tetap aja rame.
Tetap dicari.
Tetap jadi oleh-oleh wajib banyak orang.

Lama-lama gue kepikiran,
“Siapa sih sebenernya pembeli Pie Susu Dhian? Terus apa alasan mereka balik dan balik lagi?”

Akhirnya gue iseng bikin riset versi gue sendiri.
Bukan riset akademis ya, tapi observasi ala-ala manusia kepo yang suka ngamatin orang.
Dan makin gue amati, makin kebuka satu hal: pembeli Pie Susu Dhian itu ternyata punya karakter yang menarik.

Pengamatan Kecil yang Jadi Besar

Awalnya gue cuma ngeliat tingkah laku para pembeli.
Ada yang buru-buru, ada yang santai, ada yang keliatan bawa list titipan se-kantor.
Ada juga tipe orang yang cuma mau “cek dulu, nyobain dulu”, tapi 10 menit kemudian pulang bawa tiga box.

Dari sini, gue mulai sadar…
Ini bukan cuma soal rasa.
Ada psikologi, ada memori, ada nilai emosional yang bikin Pie Susu Dhian punya tempat di hati banyak orang.

Akhirnya gue coba bagi pembeli Pie Susu Dhian ke beberapa kategori.
Bukan untuk mengkotak-kotakkan, tapi untuk memahami motivasi mereka.

Wisatawan yang Cari Oleh-Oleh Pasti Aman

Ini kelompok yang paling sering gue lihat.

Mereka biasanya baru turun dari mobil travel, masih pake topi pantai, kadang pegang kamera kecil.
Mereka gak mau ambil risiko salah pilih oleh-oleh, jadi mereka pilih yang “pasti enak”, “pasti aman”, dan “pasti diterima siapa pun”.

Dan Pie Susu Dhian masuk kategori itu.

Motivasinya simpel:
mereka butuh oleh-oleh yang rasanya stabil, harganya masuk akal, dan gampang dibawa pulang.

Buat mereka, Dhian itu kayak “default setting” pie susu Bali.

Mereka gak mau eksperimen.
Mereka mau sesuatu yang pasti bikin penerimanya seneng.

Pembeli yang Sudah Pernah Nyobain dan Ketagihan

Kelompok ini lebih unik.
Mereka bukan cuma pembeli, tapi fans.
Yang kalau beli biasanya langsung banyak, minimal 4–6 box.

Dari pengamatan gue, motivasi mereka ada dua:

Pertama, mereka merasa Pie Susu Dhian punya rasa yang konsisten.
Kulitnya tipis tapi renyah, manisnya pas, dan gak bikin eneg.

Kedua, mereka punya memori emosional.
Pernah makan saat momen liburan yang menyenangkan,
atau dulu dibawain temen kantor,
atau sekadar pernah jadi makanan “pelipur rindu” setelah kerja capek.

Jadi buat mereka, Dhian itu bukan sekadar pie.
Tapi pengingat bahwa hidup itu gak selalu sesibuk dan sekeras yang mereka pikirkan.

Hunter Rasa Otentik Bali

Nah ini tipe pembeli yang rada idealis.
Biasanya anak muda, sering traveling, suka konten kuliner, dan selalu cari “yang paling Bali”.

Mereka lebih peka soal rasa dan pengalaman.
Menurut mereka, Dhian punya karakter klasik:
teksturnya gak neko-neko, rasanya gak dilebih-lebihin, dan essensinya tetap “pie susu jadul” yang hangat dan sederhana.

Motivasi mereka?
Mereka ingin rasa yang merepresentasikan Bali sesungguhnya, bukan Bali versi kemasan modern.

Para Pemburu Value

Ada juga tipe pembeli yang sangat perhitungan.
Bukan pelit, tapi mereka mau kualitas yang sebanding dengan uang yang mereka keluarkan.

Dan jujur aja, Pie Susu Dhian memang masuk kategori value tinggi.
Rasanya enak, ukurannya pas, harganya wajar, dan packaging-nya aman untuk dibawa perjalanan jauh.

Motivasi utamanya:
mereka mau barang bagus dengan harga bersahabat.
Dan Dhian ngasih itu tanpa drama.

Tipe ‘Titipan dari Semua Orang’

Ini tipe paling kasian tapi paling lucu.
Biasanya orang Bali yang kerja di luar kota atau orang yang punya banyak circle.

Tiap pulang kampung atau liburan, temennya pada titip.
“Beliin Dhian ya!”
“Pie susu yang itu loh, yang bentuknya klasik itu!”

Akhirnya dia beliin banyak box, bukan karena dia doyan, tapi karena hampir semua orang di sekitarnya suka.

Motivasinya?
Mereka mau yang praktis, yang pasti diterima siapa pun, dan gak bikin mereka repot mikirin merek lain.

LALU APA BENANG MERAHNYA?

Setelah gue kumpulin semua pengamatan ini, gue baru sadar…
Motivasi orang beli Pie Susu Dhian itu ternyata bukan cuma soal rasa.

Ada tiga hal yang selalu muncul:

Pertama, kepercayaan.
Orang suka sesuatu yang bisa diandalkan.
Dhian ngasih itu dari dulu sampai sekarang.

Kedua, kesederhanaan yang bikin nyaman.
Gak perlu topping aneh-aneh, gak perlu varian ribet.
Justru karena sederhana, orang gampang jatuh cinta.

Ketiga, memori.
Setiap orang punya cerita kecil yang tersangkut sama makanan favoritnya.
Dan Dhian sering banget jadi bagian dari cerita itu.

KESIMPULAN KECIL DARI RISET SINGKAT INI

Setelah ngamatin begitu banyak pembeli, gue akhirnya paham…
Pie Susu Dhian bukan cuma produk oleh-oleh, tapi pengalaman.

Dia menghubungkan orang dengan kenangan liburan, rasa autentik Bali, momen bersama keluarga, bahkan hadiah kecil untuk teman kantor.

Rasanya mungkin sederhana.
Teksturnya mungkin klasik.
Tapi justru karena itu, Pie Susu Dhian punya tempat yang stabil di hati banyak orang.

Dan mungkin ya…
kayak proses healing atau perjalanan hidup yang tenang-tenang aja,
kadang yang bikin orang kembali itu bukan sesuatu yang heboh,
tapi hal-hal kecil yang terasa pas.

Pie Susu Dhian itu salah satunya.

Share your love

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *