Beberapa waktu lalu, gue lagi duduk santai di sebuah warung kopi kecil di Denpasar. Bukan yang instagramable, bukan juga yang ramai turis. Tempatnya sederhana, tapi ada satu pemandangan yang bikin gue kepikiran lama:
Seorang bule dari Eropa masuk, pesen kopi Bali, terus bilang ke baristanya, “Do you know where I can buy Pie Susu Dhian? My friend told me it’s the best.”
Gue langsung bengong.
Loh, kok bisa?
Ini bukan brand yang pasang baliho besar di bandara, bukan yang tiap hari muncul di iklan hotel, bukan yang ngendorse influencer bule yang followers-nya ratusan ribu.
Tapi nama Toko Pie Susu Dhian nyampe ke telinga mereka.
Sejak itu, gue jadi kepo. Gue mulai ngobrol sama warga lokal, tanya-tanya ke pedagang oleh-oleh, sampai akhirnya gue sadar… mungkin strategi pemasaran Pie Susu Dhian itu justru kuat karena kesederhanaannya. Dan cara mereka menarik turis mancanegara itu bukan lewat “teriakan” iklan, tapi lewat pengalaman yang nempel di kepala orang.
Akhirnya gue mulai merangkai puzzle-puzzle kecil ini dan nemu insight menarik tentang kenapa brand ini bisa begitu dicari wisatawan asing.
Local Authenticity yang Gak Dipoles Berlebihan
Ada satu hal yang bikin para turis selalu penasaran: keaslian.
Mereka gak datang ke Bali cuma buat lihat tempat indah. Mereka datang buat ngerasain vibe-nya, budaya-nya, orang-orangnya, makanannya… yang bener-bener “Bali”.
Nah, Pie Susu Dhian punya kekuatan itu.
Tanpa mereka sadari.
Resep lama yang tetap dipertahankan. Rasa manis yang gak dilebih-lebihin. Kemasan yang terasa rumahan tapi tetap rapi. Toko kecil yang berbau aroma susu dan mentega. Interaksi langsung dengan pembuatnya. Semua itu, kalau dipikir-pikir, adalah paket pengalaman yang para turis jarang temuin di negara mereka.
Sementara banyak brand berlomba-lomba bikin kemasan modern, glossy, dan “kekinian”, Pie Susu Dhian tetap dengan identitas lokalnya.
Dan justru itu yang bikin mereka menonjol.
Word of Mouth yang Bergerak Lebih Cepat dari Iklan
Gue percaya banget, kalau ada satu strategi pemasaran kuno yang masih lebih kuat dari digital ads, itu adalah rekomendasi mulut ke mulut.
Turis mancanegara itu tipe yang suka share pengalaman.
Mereka suka ngobrol sama sesama traveler.
Mereka aktif di forum seperti Reddit, TripAdvisor, dan travel blog pribadi.
Dan ketika mereka menemukan sesuatu yang “hidden gem”, mereka bangga buat menyebarkannya.
Pie Susu Dhian itu masuk kategori hidden gem.
Bayangin ya… seorang turis yang awalnya cuma beli dua kotak buat dicoba, akhirnya beli delapan kotak lagi buat dibawa pulang. Lalu dia posting foto, tulis review, cerita pengalaman ke temannya—dan tanpa sadar, dia lagi ngebantu brand ini lebih dari puluhan juta rupiah budget iklan.
Makanya kadang gue mikir, strategi mereka itu kayak ripple effect.
Gak keliatan, tapi nyebarnya jauh.

Lokasi yang Strategis tapi Tetap Humble
Banyak turis lebih percaya tempat yang gak terlalu “touristy”.
Tempat yang kalau lo masuk, lo merasa kayak warga lokal, bukan hanya pelanggan.
Toko Pie Susu Dhian punya vibes itu.
Gue pernah lihat bule antre sambil senyum-senyum. Mereka suka tempat yang punya cerita, bukan sekadar toko oleh-oleh mainstream. Lokasi yang gak terlalu menyolok justru bikin mereka merasa “nemuin tempat rahasia”.
Dan itu yang bikin pengalaman mereka makin melekat di memori.
Konsistensi Produk, Bukan Konsistensi Promosi
Ini poin yang jarang dibahas.
Brand kecil sering merasa harus ngeluarin produk baru tiap bulan biar relevan. Tapi Pie Susu Dhian? Mereka fokus cuma satu hal: rasa yang gak berubah.
Turis mancanegara itu datang dari jauh. Mereka percaya rekomendasi teman. Dan mereka berharap apa yang mereka coba sama dengan apa yang dipuji orang sebelumnya.
Dengan mempertahankan kualitas yang sama selama bertahun-tahun, brand ini berhasil bikin kepercayaan yang gak bisa dibeli.
Bahkan tanpa update setiap saat.
Storytelling dari Pelanggan ke Pelanggan
Strategi paling powerful itu ketika pelanggan lo yang jadi storyteller.
Misalnya begini:
Seorang traveler Jepang datang ke Bali. Dia nyari oleh-oleh yang “simple tapi khas”. Dia beli Pie Susu Dhian di hari terakhir. Pas balik ke negaranya, dia kasih satu kotak ke temannya di kantor. Temannya suka, lalu minta dibawain lagi kalau dia ke Bali lagi. Temennya cerita ke temannya lagi.
Begitu terus.
Dari satu kotak, jadi lima kotak.
Dari lima kotak, jadi tren kecil.
Dari tren kecil, jadi permintaan rutin.
Semua dimulai dari satu pengalaman yang genuine, bukan kampanye besar-besaran.
Mereka Gak Berusaha “Ngejual” Terlalu Keras
Kadang, brand yang terlalu agresif itu malah bikin orang ilfeel.
Turis mancanegara apalagi, mereka sensitif kalau mereka merasa sedang “diarahkan”.
Tapi Pie Susu Dhian?
Mereka cuma menyajikan produk terbaiknya.
Tanpa gimmick.
Tanpa rayuan marketing yang lebay.
Justru sikap tidak agresif inilah yang bikin orang merasa nyaman.
Kayak ketika lo ngobrol sama orang yang gak berusaha impress lo.
Justru itu bikin lo lebih tertarik.
yang Akhirnya Gue Pahami
Setelah ngobrol, ngamatin, dan ngerasain vibes-nya, gue akhirnya ngerti…
Kadang strategi pemasaran paling kuat itu bukan berasal dari hal-hal yang heboh.
Bukan dari ratusan iklan, bukan dari billboard, bukan dari influencer.
Tapi dari:
Ketulusan produk.
Keaslian yang gak dibuat-buat.
Cerita yang mengalir sendiri dari pelanggan.
Kualitas yang konsisten.
Pengalaman kecil yang jujur.
Dan Pie Susu Dhian adalah bukti hidup dari itu semua.
Mereka bisa menarik turis mancanegara bukan karena mereka berteriak paling keras.
Tapi karena mereka paling autentik.
Kalau dipikir-pikir… mungkin itulah seni pemasaran lokal yang sebenarnya.
Bukan tentang bagaimana lo membuat semua orang melihat.
Tapi bagaimana lo membuat seseorang merasa.
Dan ketika seseorang merasa…
ceritanya akan menyebar lebih jauh daripada iklan manapun.
