Beberapa minggu lalu, gue scroll feed medsos dan nemu videonya travel blogger dari Eropa—lagi nyobain Pie Susu Dhian.
Reaksinya? Gue duduk aja, makan popcorn virtual saking penasarannya.
Di video itu, si turis bilang:
“Wow, this is the best custard pie I’ve ever had in Asia. It’s sweet but not too much, creamy inside, slightly crisp outside—something I never expected.”
Yang bikin gue tertarik bukan cuma komen soal rasa, tapi juga gimana dia nyambungin pie ini sama Bali secara keseluruhan. Karena rasanya bukan sekadar legit—tapi punya story. Dan itu penting, bro.
Pertama: Tekstur itu Everything
Pertama kali dia gigit, reaksinya spontan:
“It’s like French pastry but more mellow.”
Turis dari Perancis bilang begitu loh. Padahal mereka punya boulangerie sejuta rasa. Nah di sinilah pie susu Dhian berperan.
Pinggirannya tipis, renyah tipis kayak kulit pastry ala Eropa. Tapi isiannya creamy dan manis pas. Gak lebay.
Dia sempat perhatiin detil: “I love how the edges don’t fall apart when I bite.”
Itu artinya pie-nya punya konsistensi yang sempurna—anti amburadul.
Kedua: Rasa Autentik yang Nyambung sama Cerita Bali
Gue inget di vicon selanjutnya, dia sambil pegang box Pie Susu Dhian bilang:
“It’s not just a snack; it’s a memory of Bali.”
Bukan basa-basi. Itu kesan yang beneran terasa. Karena dia ngomong soal packagingnya yang lokal banget—motif tenun Bali, warna earthy, vibe tradisional.
Dan pas dibuka, ada wewangian susu hangat dan aroma sedikit vanila…
Menurut dia, itu aroma yang bikin inget suasana Bali: hangat, ramah, dan mellow.
Ketiga: Bisa Dibawa Buat Oleh-Oleh
Seorang turis dari Australia juga bikin review:
“I took it home to Sydney, packed carefully in my suitcase — survived the flight! When I shared with friends, they said they could taste Bali in it.”
Dia cerita packaging pie susu Dhian aman banget buat perjalanan panjang.
Gak lembek, gak remuk, gak ancur—pokoknya ready buat jadi hadiah. Dan pas sampe di Sydney, dia buka bareng temen-temen, dan reaksi mereka?
Mereka bilang rasanya ‘unik’, berbeda dari dessert manis yang biasa mereka coba.
Itu artinya pie ini sukses jadi ambassador rasa Bali tanpa embel-embel.

Apakah Rasanya Sesuai Ekspektasi Turis?
Intinya: iya banget.
Si turis India bilang, dia terbiasa dengan cemilan manis yang dominan gula.
Dia kaget banget karena pie susu Dhian gak manis maksimal—tapi pas, lembut, dan punya aftertaste ‘clean’.
Menurut dia, ini level sweetness yang bikin nyaman dimakan berkali-kali. Nggak bikin eneg.
Kenapa Turis Nyantumin Pie Susu Dhian?
Ada beberapa alasan:
- Konsistensi rasa & tekstur: Sesuai untuk semua lidah—bukan terlalu manis, gak keras, dan gampang dimakan.
- Kemasan lokal dan estetis: Bikin dia bangga kasih hadiah atau pamer di Insta Stories.
- Harga ramah kantong turis: Murah meriah untuk ukuran kualitas dan kesan yang ditinggalkan.
- Aku rasa di situ Endingnya “Story sells”: Mereka gak cuma jual pie, tapi jual cerita.
Review dari Travel Forum
Di forum TripAdvisor, seorang turis Jerman nulis:
“Pie Susu Dhian was recommended by hostel staff. I didn’t expect much, but when I tried it, I quickly bought more to bring home. Locals call it ‘pie Bali’ for a reason — it resonates.”
Ada juga feedback dari forum Reddit Bali:
“Not too sweet, great texture, and perfect packaging—brought some back, everyone loved it.”
Komentar-komentar ini nunjukin bahwa pie ini bukan cuma hype sesaat. Komunitas turis yang pernah coba, banyak yang ulang beli—ini yang bikin mereka jadi endorsers organic.
Bisakah Pie Susu Dhian Jadi Kuliner Internasional?
Menurut gue: bisa banget.
Dengan packaging yang oke, rasa yang universal, dan cerita kultural yang kuat—pie ini punya modal buat masuk ke toko suvenir global.
Bayangin aja: gallery esens Bali di berbagai negara, lengkap dengan pie susu ini—“take a bite of Bali.”
Kesimpulan: Turis Mancanegara Setuju
Setelah denger review dari berbagai negara, satu hal yang jelas:
Pie Susu Dhian bukan sekadar pie manis biasa. Dia adalah representasi kecil Bali—dalam tekstur, rasa, kemasan, dan cerita.
Yang bikin turis tertarik gak cuma rasanya. Tapi sensasi “nge-bali-in” mereka lewat gigitan sederhana.
Kalau lo lagi cari oleh-oleh yang rasanya aman di lidah orang luar negeri, punya packaging Instagramable, dan bisa jadi kurir rasa Bali tanpa embel-embel—Pie Susu Dhian tuh worth banget untuk lo coba dan bawa pulang.
Dan kalau lo termasuk orang yang suka bawa cerita lewat makanan, pie ini jawabannya.
Biarpun sederhana, pie ini membuktikan bahwa kesederhanaan yang tulus itu bisa menembus hati siapa aja—tanpa perlu pake embel-embel gimicky.
