Beberapa bulan terakhir ini gue sering kepikiran satu hal…
Kenapa ya sekarang orang lebih gampang berhenti scroll gara-gara video sederhana, tapi bisa skip iklan mahal dalam hitungan detik?
Awalnya gue kira karena algoritma.
Atau karena durasi.
Atau karena sound lagi viral.
Tapi makin ke sini, makin kelihatan satu benang merah yang nggak bisa diabaikan:
Orang capek sama konten yang kelihatan niat jualan.
Dan itu kepikiran juga waktu gue ngeliat banyak brand oleh-oleh Bali, termasuk pie susu, berlomba-lomba bikin konten yang “katanya” estetik, tapi rasanya… hambar.
Rapi sih.
Cakep sih.
Tapi nggak bikin pengen berhenti.
Dari situ gue sadar, strategi konten buat Reels dan TikTok itu bukan soal kamera mahal atau editing ribet.
Tapi soal:
Apakah konten lo terasa hidup atau cuma pajangan digital?
Pie Susu Dhian itu produk yang kuat secara cerita.
Dia bukan cuma soal rasa manis dan tekstur lembut.
Tapi soal momen orang liburan, soal oleh-oleh buat orang rumah, soal “gue inget lo waktu ke Bali”.
Nah, konten yang kuat itu tinggal nerjemahin momen-momen kecil itu ke layar.
Bukan dengan skrip kaku.
Justru dengan hal-hal yang kelihatannya sepele.
Misalnya gini.
Coba bayangin video 7 detik.
Cuma tangan buka box Pie Susu Dhian.
Tanpa ngomong.
Tanpa caption panjang.
Suara ambient toko, plastik gesek dikit, lalu potongan pie yang kelihatan lembut.

Konten kayak gitu kerjanya bukan di logika, tapi di rasa.
Dan algoritma suka rasa yang jujur.
Atau ide lain yang sering diremehkan:
Reaksi pertama.
Bukan reaction yang dibuat-buat.
Tapi ekspresi orang yang beneran lagi capek, duduk di mobil habis panas-panasan, buka pie susu, gigit, lalu senyum kecil sambil bilang,
“Ah… ini sih enak.”
Justru momen nggak sempurna itu yang bikin orang percaya.
Di TikTok dan Reels, orang nggak nyari iklan.
Mereka nyari temen.
Makanya strategi konten Pie Susu Dhian seharusnya nggak berdiri sebagai brand yang “berdiri di atas”, tapi duduk bareng penonton.
Konten proses juga jangan disepelekan.
Bukan proses yang sok rahasia dapur, tapi hal-hal sederhana: adonan dituangkan, pie masuk oven, rak disusun pagi-pagi.
Video kayak gitu bikin orang ngerasa,
“Oh ini bukan pabrik dingin. Ini beneran dibuat.”
Dan kepercayaan itu mahal.
Satu lagi yang sering kejadian tapi jarang diangkat:
Konten oleh-oleh.
Banyak orang bingung bukan karena pie susunya, tapi karena momennya.
Takut hancur.
Takut salah pilih.
Takut nggak kebagian.
Konten yang nunjukin Pie Susu Dhian dibungkus rapi, ditaruh di tas travel, dibawa naik mobil atau motor, itu relevan banget buat wisatawan.
Bukan jualan rasa.
Tapi jualan rasa aman.
Dan jangan lupa satu jenis konten yang sering dianggap receh tapi sebenarnya nempel:
Cerita pendek.
Bukan storytelling lebay.
Cukup satu kalimat jujur di caption, misalnya tentang seseorang yang selalu beli pie susu buat orang tuanya setiap pulang ke Bali.
Nggak harus sedih.
Nggak harus dramatis.
Cukup nyata.
Karena orang nggak share konten karena produknya.
Mereka share karena ceritanya kena.
Yang penting, jangan keburu pengen viral.
Konten yang awet itu bukan yang meledak sehari, tapi yang pelan-pelan nempel.
Pie Susu Dhian itu punya keunggulan di situ:
Dia konsisten.
Dia familiar.
Dan dia hadir di momen yang personal.
Strategi Reels dan TikTok yang baik itu bukan soal ngejar angka.
Tapi soal bikin orang ngerasa,
“Kalau ke Bali, ini yang gue cari.”
Dan lucunya, makin kontennya terasa santai, makin niat orang berhenti scroll.
Karena di tengah hiruk pikuk konten yang teriak,
yang ngomong pelan justru kedengeran paling jelas.
Dan mungkin, itu juga kenapa konten yang jujur selalu punya umur lebih panjang.
Bukan karena sempurna.
Tapi karena terasa manusia.
