Event Kuliner Bali: Stand Pie Susu Dhian yang Bikin Kangen Pulang

Beberapa hari setelah event kuliner Bali kemarin, gue masih keinget satu hal.

Bukan soal rame-nya pengunjung, bukan juga soal untung atau larisnya produk. Tapi tentang satu momen sederhana—seorang bapak paruh baya, berdiri di depan stand Toko Pie Susu Dhian Murah, sambil senyum-senyum kecil, lalu bilang:

“Ini nih… rasa pie yang bikin saya inget ibu saya.”

Dan dari situ gue langsung diem.

Karena ternyata ya… di tengah semua keramaian, gimmick promosi, dan kompetisi antar-stand, kadang yang paling ngena tuh bukan strategi pemasaran, tapi momen kayak gitu.

Kenapa Ikut Event Ini?

Jujur, pas awal ditawarin untuk buka stand di event kuliner Bali ini, reaksi kita tuh agak… campur aduk.

Kayak, “Masa sih, Pie Susu Dhian yang udah punya toko sendiri, mesti ikut-ikutan pasar kuliner gitu?”
Tapi setelah dipikirin dalam-dalam, kita sadar: kadang justru di tempat kayak gitu, produk kita bisa ketemu langsung sama hatinya orang.

Gak lewat toko mewah, gak lewat kemasan, tapi langsung dari tatap mata ke gigitan pertama.

Dan ternyata… keputusan buat ikut itu adalah salah satu langkah paling relatable yang pernah kita ambil.

Bukan Sekadar Stand

Waktu hari H, tim kita udah siap dari jam 6 pagi. Kita set meja, pasang dekor ala Bali yang simpel tapi hangat, dan susun dus-dus pie dengan edisi regular dan spesial.
Tapi yang bikin beda dari stand lain adalah: kita bawa cerita.

Di meja, ada papan kecil dengan tulisan tangan:
“Pie ini bukan sekadar oleh-oleh. Tapi kenangan yang dibungkus manis.”

Dan lo tau apa yang terjadi?
Banyak yang berhenti bukan karena rasa penasaran sama pie-nya. Tapi karena mereka baca tulisan itu dan langsung bilang:
“Iya sih, aku dulu suka dibawain pie sama kakakku kalau pulang dari Bali.”

Dari situ obrolan dimulai. Dari satu memori kecil, bisa kebuka cerita panjang.
Dan kita dengerin semua itu sambil nyuguhin tester pie yang baru mateng. Hangat, lembut, dan nyusup ke rasa yang… ya, sulit dijelaskan.

Reaksi yang Gak Diduga

Satu keluarga dari Bandung sempat mampir. Ibunya cerita, dulu waktu bulan madu ke Bali, oleh-oleh pertama yang dia bawa pulang buat mertua adalah Pie Susu Dhian. Sekarang, 20 tahun kemudian, dia ajak anak-anaknya ke event kuliner ini, dan mereka ketemu stand kita.

Gak lama, anak perempuannya bisik-bisik,
“Ma, ini yang mama cerita waktu itu ya?”

Dan ibunya cuma angguk, matanya berkaca-kaca.

Jujur, saat itu kita semua yang jaga stand jadi ikut diam. Karena ternyata… rasa itu bisa nyambung lintas waktu.

Lebih Dari Sekadar Jualan

Dari awal kita bikin Pie Susu Dhian, yang kita pikirin bukan cuma soal rasa. Tapi juga soal hati yang bisa ditinggalin di setiap gigitan.

Dan event ini, jadi semacam pengingat buat kita.

Bahwa bisnis yang bagus itu bukan cuma soal seberapa banyak produk yang kejual, tapi seberapa dalam lo bisa masuk ke memori orang.

Dan buat kita, selama 3 hari event kemarin, kita gak cuma jual ribuan box pie…
Kita juga ‘nge-trigger’ ratusan ingatan.

Dari orang tua yang ingat masa mudanya.
Anak muda yang pertama kali ngerasain pie susu.
Sampai pasangan yang ketemu pertama kali pas beli oleh-oleh di toko kita.

Apa yang Kita Pelajari?

Pertama: kehadiran itu penting.
Lo bisa punya produk seenak apa pun, tapi kalau lo gak hadir di tempat orang-orang lagi cari cerita dan pengalaman, kadang lo cuma jadi etalase yang lewat.

Kedua: jangan remehkan kekuatan satu potong pie.
Karena bisa aja buat kita itu sekadar makanan. Tapi buat orang lain, itu bisa jadi potongan kenangan.

Dan yang terakhir: event kuliner bukan cuma ajang jualan. Tapi tempat untuk bikin koneksi yang nyata, langsung dari rasa ke rasa.

Setelah Event Berakhir…

Kita pulang gak cuma bawa catatan penjualan. Tapi juga cerita-cerita yang nyangkut di hati.

Ada yang minta kita buka cabang di kota mereka.
Ada yang kirim DM, minta resep karena ibunya suka banget.
Ada juga yang tiba-tiba jadi langganan tetap, karena katanya pie kita rasanya “rumah banget.”

Dan sekarang, tiap kali kita produksi lagi di dapur, kita jadi makin sadar: pie ini gak bisa dibuat asal. Karena dia udah jadi bagian dari cerita orang lain.

Kalau Lo Belum Coba…

Kalau suatu hari nanti lo lagi jalan-jalan ke Bali, entah buat healing, honeymoon, atau sekadar mampir sebentar…

Jangan lupa mampir ke Pie Susu Dhian.
Bukan buat ngikutin tren,
tapi siapa tau lo juga nemu rasa yang selama ini lo cari—rasa pulang.

Karena pie ini, bukan cuma oleh-oleh. Tapi pelan-pelan… jadi pelipur rindu.

Share your love

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *