Beberapa bulan terakhir ini, kami di tim Pie Susu Dhian mulai mikir…
Apakah oleh-oleh khas Bali cuma bisa berhenti di rasa enak dan kemasan cantik aja?
Apa gak bisa, sekali-kali, oleh-oleh juga jadi medium ekspresi?
Sesuatu yang gak cuma dinikmati lidah, tapi juga bisa jadi cerita.
Awalnya cuma obrolan random sore hari di kantor.
Salah satu staf kami nyeletuk,
“Gimana kalau Pie Susu Dhian kolaborasi sama seniman lokal? Bikin edisi terbatas yang gak cuma pie, tapi juga punya makna?”
Jujur aja, awalnya kami mikir… siapa juga yang mau beli pie rasa biasa tapi kemasannya ‘nyeni’? Tapi semakin direnungi, semakin kami sadar: Bali itu bukan cuma soal pantai dan oleh-oleh. Bali itu soal rasa. Soal cerita. Soal ekspresi.
Dan akhirnya… ide itu kami garap serius.
Bukan Sekadar Pie, Tapi Rasa yang Punya Cerita
Kami mulai ngobrol dengan beberapa seniman Bali. Ada pelukis, desainer, pematung. Tapi pertemuan kami dengan Dewa Ayu Saraswati—seorang ilustrator muda asal Gianyar—itu yang jadi titik awal segalanya.
Dia datang dengan mata berbinar, membawa sketsa penuh warna.
“Buat saya,” katanya, “pie susu itu bukan cuma makanan. Dia itu kenangan. Waktu kecil, nenek saya sering beliin pas saya habis les tari. Jadi saya pengen bikin visual yang menggambarkan Bali masa kecil: senja di halaman, suara gamelan dari pura sebelah, dan wangi daun pisang dari dapur.”
Dan boom. Kami semua yang denger langsung diam. Tersentuh.
Karena ternyata, meski kami udah bertahun-tahun produksi pie, kami sendiri belum pernah ngeliatnya sedalam itu.
Pie Susu Edisi Spesial: Rasa yang Dibalut Cinta
Dari sana, semuanya mengalir.
Dewa Ayu membuat ilustrasi eksklusif untuk box Pie Susu Dhian edisi kolaborasi ini. Gambarnya bukan Bali yang turistik. Tapi Bali yang hangat, intim, dan personal: gadis kecil menari di halaman rumah, ibu mengaduk adonan pie, langit jingga membungkus semuanya.
Lalu kami juga berdiskusi: rasa pie-nya harus spesial.
Akhirnya lahirlah varian baru yang belum pernah kami buat sebelumnya: Pie Susu Rasa Kelapa Gula Merah.

Kenapa rasa itu?
Karena Dewa Ayu bilang, itu rasa yang paling mewakili masa kecilnya. Gula merah dari dapur neneknya, dan parutan kelapa yang selalu bikin dia berebut dengan sepupunya.
Kami uji coba resep sampai delapan kali. Kami gagal, bantat, terlalu manis, kurang wangi. Tapi semua dicatat, diperbaiki, dan akhirnya… batch ke-9 jadi versi paling sempurna.
Proses yang Gak Cuma Tentang Produk
Selama proses ini, kami banyak belajar.
Ternyata, membuat produk kolaborasi itu bukan cuma soal mencampur ide dan bahan. Tapi soal menghormati cerita orang lain, memberi ruang, dan menyatukan visi tanpa menghilangkan esensi masing-masing.
Kami belajar bahwa pie susu bisa jadi lebih dari sekadar oleh-oleh. Dia bisa jadi jembatan. Antara industri dan seni. Antara generasi muda dan tradisi. Antara lidah dan hati.
Dan yang paling bikin kami terharu, saat batch pertama akhirnya rilis dan box-nya dipajang di toko, ada seorang ibu paruh baya yang berdiri lama di depan rak.
Dia pegang box-nya, baca tulisan kecil di pojok yang ditulis Dewa Ayu:
“Untuk nenek saya, yang mengajari bahwa rasa paling enak datang dari hati yang hangat.”
Ibu itu senyum, lalu pelan-pelan berkata ke anaknya,
“Nak, ibu jadi ingat almarhumah ibu saya.”
Kami gak nyangka. Tapi di situ kami tahu…
Kami gak cuma jual pie. Kami sedang menjual kenangan yang dibungkus lembut.
Edisi Terbatas, Tapi Maknanya Panjang
Kolaborasi ini bukan yang terakhir.
Setelah batch ini, kami sudah mulai menjajaki kolaborasi berikutnya. Mungkin dengan pematung, mungkin dengan penari, mungkin juga dengan musisi.
Karena kami percaya, Bali itu kaya bukan karena banyak tempat indah, tapi karena banyak orang yang punya cerita indah.
Dan Pie Susu Dhian, kami putuskan, harus jadi bagian dari cerita itu.
Jadi, Apa Hikmahnya Buat Kami?
Kadang, dalam dunia bisnis yang terus berlari cepat, kami lupa bahwa hal paling sederhana bisa punya daya paling kuat: cerita. Emosi. Sentuhan hati.
Dan kolaborasi ini mengingatkan kami,
Bahwa oleh-oleh bukan sekadar apa yang dibawa pulang dari perjalanan,
Tapi juga apa yang tertinggal di hati orang yang menerima.
Kalau Kamu Belum Coba…
Kalau kamu mampir ke Bali, sempatkan ke toko kami.
Pie Susu edisi kolaborasi ini cuma dibuat terbatas. Bukan biar eksklusif, tapi karena kami percaya: yang dibuat dengan hati, harus dijaga jumlahnya.
Dan siapa tahu, waktu kamu gigit pie-nya, kamu juga akan teringat sesuatu.
Mungkin bukan nenekmu. Tapi bisa jadi, masa kecilmu.
Atau sekadar rasa hangat yang lama tak kamu temui.
Kalau itu terjadi, maka… kolaborasi ini berhasil.
