Trend Packaging Pie Susu Unik yang Instagramable

Beberapa minggu terakhir ini gw sering mikir…
Kenapa ya kemasan suatu produk sekarang bisa bikin orang langsung “klik” di feed Instagram, sampe rela nge-save, nge-share, atau bahkan hunting cuma karena packaging-nya cakep?

Gw ingat banget, mulai dari kopi sachet gemas, masker wajah warna-warni, sampai makanan ringan unsur lokal—semuanya bisa viral cuma karena kemasannya Instagramable.

Dan hal itu… bikin gw jadi kepikiran soal Pie Susu Dhian. Iya, pie susu Bali yang legit dan ramah kantong itu.

Awalnya Cuma Pie Susu Biasa
Lo pasti familiar. Lo ke Bali, beli oleh-oleh, terus pulang—dan bawa pulang pie susu ungu itu. Rasanya enak, teksturnya balance, tapi kemasannya… sebatas fungsi. Simpel, ungu, logo, but nothing-wow.

Gw sempat mikir: “Gak perlu ngejar tampilan, yang penting rasanya.”

Tapi zaman berubah. Feed medsos sekarang adalah galeri visual yang penuh standar estetik. Dan kalau produk lo gak punya wajah visual yang menarik, ya… feeds orang bakal skip aja.

Mulai Berubah karena Feed dan Story
Gw ngobrol sama tim Pie Susu Dhian, dan mereka cerita: awalnya mereka banyak dapet DM dan komentar di Instagram soal kemasan. Kayak:
“Cantik banget kemasannya, bikin pengin foto.”
“Ada dus edisi aestetik gak sih?”
Komentar kayak gitu makin sering muncul, makin lama bikin mereka makin mikir.

Singkatnya: rasa aja gak cukup. Kemasan juga harus punya personality yang bisa bikin orang berhenti sebentar di feed mereka.

Relevansi Packaging di Era Visual
Lo bisa lihat satu hal. Di Bali, brand lokal sekarang pada berlomba-lomba bikin packaging yang bukan cuma fungsional, tapi punya nilai visual tinggi.
Packaging bukan “bungkus” aja, tapi jadi bagian dari brand story. Dari motif batik Bali, sketsa pemandangan lokal, sampai pattern garis minimalis—semuanya bisa bikin produk lokal jadi punya nilai jual global.

Karena di Instagram, orang gak cuma mau makan. Mereka mau nunjukin makanannya. Dan packaging yang aestetik itu jadi medium ekspresi. Loyang berbentuk kotak jadi semacam kanvas digital.

Pie Susu Dhian Ikutan Desain Ulang
Akhirnya, Pie Susu Dhian memutuskan untuk merombak tampilan kemasan mereka. Gak sembarangan, tapi melalui proses panjang:

Riset tren visual
Pantau feed internasional, liat packaging pastry global. Ambil inspirasi dari gaya Scandinavian, minimal Jepang, lalu dipadu dengan motif lokal Bali.

Kolaborasi kreatif
Mereka ngajak seorang ilustrator lokal untuk bikin motif limited edition. Pilihannya? Motif dedaunan tropis yang elegant, tipografi clean, dan skema warna pastel hangat.

Prototipe dan test sosial
Cetak sample kemasan, posting di Insta story. Ternyata netizen antusias: “Mana beli?”, “Cantik banget buat hadiah!”, “Packaging-nya aesthetic, feed-able banget.”

Produksi dan launch
Edisi pertama kemasan baru ini dirilis dengan tagline: “Rasa Bali, Kemasan Kelas Dunia”. Disertai promosi visual di media sosial, foto flat lay, unboxing story user, sampai challenge #PieSusuAesthetic.

Reaksi yang Mengejutkan
Gak disangka, reaksi netizen luar biasa:

  • Foto UGC (user generated content) meledak. Banyak orang repost packaging mereka di Insta feed dan story.
  • Brand awareness makin nguat. Banyak yang bilang, “Baru ngeh kalau ini pie khas Bali!”.
  • Penjualan meningkat signifikan—terutama untuk dus limited edition. Banyak yang beli gak cuma untuk makan, tapi juga buat koleksi packaging atau gift.

Intinya: kemasan yang Instagramable bikin produk jadi ada di dua tempat sekaligus—di tangan pembeli dan di feed medsos mereka.

Belajar dari Pie Susu Dhian
Kurang lebih, lo bisa ambil tiga pelajaran penting:

  • Visual adalah jembatan emosional
    Kalau lo bisa bikin kemasan yang nyambung ke visual pribadinya orang, lo bakal menang setengah hati mereka.
  • Kolaborasi lokal bikin nilai lebih
    Mengajak ilustrator lokal bukan cuma soal kredibilitas, tapi juga menambah cerita dan autentisitas.
  • Strategi marketing-integrasi medsos
    Packaging keren, tapi gak dipromoin? Gak kerasa. Mereka unggah tutorial unboxing, prompt UGC, dan hadiahi followers yang share. Itu bikin packaging jadi viral.

Packaging: Lebih dari Sekadar Bungkus
Mulai dari tren sampai actual reach di followers, kemasan sekarang jadi bagian dari pengalaman. Packaging itu gak cuma ‘pelindung’, tapi medium cerita.

Lo Pesan Pie Susu Dhian edisi baru, lo dapet rasa. Plus bisa pasang di feed. Plus bisa jadi hadiah cantik. Plus… bikin lo ngerasa bangga punya oleh-oleh yang “berkelas”.

Jadi, kalau lo lihat feed pie susunya Pie Susu Dhian yang baru—lo tahu. Itu bukan sekadar pie biasa. Itu pie yang punya wajah. Pie yang punya cerita. Pie yang bikin lo ngerasa… keren ketika lo buka dus dan nge-post unboxing di feed Instagram.

Karena di zaman visual kayak sekarang, kemasan yang aestetik itu bisa jadi penentu. Bukan cuma soal jualan lebih banyak, tapi soal bagaimana lo “dicintai” sama pembeli lo—bukan hanya lewat rasa, tapi lewat visual yang ngena di hati dan feed mereka.

Kalo lo sempet ke Bali, pastiin cobain yang edisi aestetik ini ya. Siapa tahu lo bisa bikin feed IG lo makin pin!

Share your love

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *