Beberapa waktu lalu, gue iseng buka-buka YouTube, terus nyangkut di satu video yang thumbnail-nya sederhana banget: “Ngemil Pie Susu Dhian Bali, Worth It Gak Sih?”
Gue klik, dan dalam lima menit pertama, ekspresi si food blogger itu udah kayak ngasih clue besar. Bukan yang lebay, bukan juga yang gimmick “wow wow wow” gitu, tapi senyum kecil sambil nutup mata pas gigitan pertama… itu udah cukup bilang banyak.
Nah, dari situ gue mikir, emang segitunya ya Pie Susu Dhian?
Gue pun mulai scroll TikTok, cari-cari di IG reels, dan ternyata… bukan cuma satu dua orang yang ngomongin. Banyak food blogger yang diem-diem jatuh cinta sama pie ini. Tapi bukan cuma soal rasa yang “enak”—karena jujur aja, “enak” itu relatif. Yang menarik, mereka cerita soal pengalaman.
Pengalaman Itu Bukan Sekadar Gigit Pie
Ada satu food blogger asal Bandung, sebut aja namanya Dira.
Dira bilang gini di vlog-nya,
“Gue gak nyangka, tekstur pie-nya tuh bukan kayak pie-pie biasa. Luarannya garing, tapi isi tengahnya lumer, bukan meleleh kayak lava, tapi kayak… ‘melembut’. Paham gak sih maksud gue?”
Dan jujur, waktu dia bilang gitu sambil ngunyah pelan, gue langsung kebayang sesuatu. Ini bukan cemilan yang lo makan sambil nonton sinetron, tapi yang lo gigit pelan-pelan, nikmatin aromanya, dan lo diem sebentar buat ngeresapi: “ini bukan pie biasa.”
Dari Review ke Renungan
Ada satu review yang paling gue inget—dari food vlogger Jakarta yang biasanya ngereview makanan Jepang atau Korea. Di satu sesi Q&A, dia bilang:
“Kalau lo nanya oleh-oleh khas Bali yang gak pasaran, gue pilih Pie Susu Dhian. Bukan karena belum banyak yang kenal, tapi karena dia punya rasa nostalgia. Serius. Rasa kayak gini tuh susah ditemuin sekarang.”
Dan waktu dia ngomong soal “rasa nostalgia”, gue keinget sesuatu.
Mungkin bukan cuma soal adonan, tekstur, atau aroma vanila yang lembut di ujung lidah. Tapi ada sesuatu di Pie Susu Dhian yang… kayak bikin lo pulang.
Pulang ke masa kecil.
Pulang ke suasana pagi di Bali.
Pulang ke momen-momen sederhana yang dulu mungkin gak terlalu kita perhatiin, tapi sekarang… justru paling kita cari.

“Ngemil Pie Susu Dhian, Rasanya Kayak Dipeluk”
Gue gak ngada-ngada. Itu kutipan asli dari satu akun food blogger yang suka nulis caption panjang. Dia bilang,
“Ada rasa nyaman yang susah dijelasin. Kayak lo baru selesai capek-capek, terus tiba-tiba ada yang nyodorin camilan ini sambil bilang: ‘santai dulu, kamu gak harus buru-buru.’”
Dan ya, walau awalnya gue cuma mau tau soal review doang, lama-lama gue malah refleksi sendiri.
Pie Susu Itu Simpel. Tapi Simpel Gak Berarti Biasa.
Banyak produk pie di luar sana yang berlomba-lomba tampil heboh—topping menggunung, warna mencolok, nama varian yang ribet. Tapi Pie Susu Dhian beda.
Dia tetap pada akarnya: pie susu khas Bali.
Tapi dibuat dengan standar kualitas tinggi.
Rasa yang jujur.
Gak neko-neko.
Banyak food blogger bilang, ini pie yang bisa lo makan 3-4 kali dalam sehari dan tetap gak bosen.
Dan gue rasa itu pencapaian. Karena dalam dunia makanan, repeatability adalah bentuk pujian tertinggi.
Kenapa Mereka Milih Pie Susu Dhian?
Gue simpulkan dari berbagai review yang gue tonton dan baca, ini beberapa alasan kenapa food blogger jatuh hati:
- Konsistensi rasa. Dari batch ke batch, tetap stabil. Gak ada cerita “dulu enak, sekarang berubah”.
- Tekstur unik. Garing lembut yang gak mudah ditiru.
- Rasa manis pas. Gak bikin eneg, cocok buat orang yang biasa ngopi atau minum teh.
- Packaging niat. Bahkan buat gift atau souvenir pun cakep. Bukan yang asal dibungkus.
- Identitas Bali-nya kuat. Dari rasa sampai aroma, dari visual sampai vibe, semua terasa “Bali banget”.
Kalau Kata Mereka, Pie Susu Dhian Itu…
“Kayak Bali yang bisa lo bawa pulang.”
Itu kalimat dari satu reviewer yang bikin gue diem. Karena iya juga, gak semua orang bisa sering-sering ke Bali. Tapi lewat Pie Susu Dhian, lo kayak dapet sepotong kecil Bali di tangan lo.
Dan bukan cuma buat dimakan sendiri. Banyak yang beli buat oleh-oleh kantor, buat acara keluarga, bahkan jadi souvenir nikahan. Karena sesimpel itu, tapi berkesan.
Apa yang Gak Diomongin Tapi Terasa?
Ini hal yang gak semua reviewer tulis atau ucapkan, tapi gue yakin mereka ngerasain: pie ini dibuat dengan hati.
Lo bisa bilang ini lebay, tapi dalam industri makanan, produk yang dibuat sekadar untuk laku… rasanya beda.
Pie Susu Dhian bukan sekadar “pie susu enak dari Bali.”
Tapi tentang dedikasi, tentang mempertahankan kualitas di tengah banyaknya kompetitor, tentang rasa yang gak berubah walau zaman udah makin modern.
perlu diketahui juga kalau membeli pie susu dengan harga yang murah membelinya secara grosir pie susu dhian murah. dengan begitu harga pie susu dhian bisa lebih murah.
Akhir Kata: Pie Ini Bukan Sekadar Oleh-Oleh
Gue gak akan bilang Pie Susu Dhian itu “paling enak sedunia”—karena selera tiap orang beda. Tapi kalau lo tanya, “kenapa banyak food blogger balik lagi ke pie ini?” Jawabannya mungkin karena mereka nemu sesuatu yang lebih dari sekadar makanan.
Mereka nemu rasa nyaman.
Dan mungkin, itu juga yang bikin review mereka bukan sekadar review. Tapi jadi cerita—tentang bagaimana satu pie bisa mengingatkan pada rumah, pada Bali, dan pada rasa damai yang gak bisa dibeli di mana pun.
Kalau lo ke Bali dan bingung mau bawa pulang apa, mungkin Pie Susu Dhian jawabannya.
Bukan cuma buat ngasih rasa, tapi juga kenangan.
