Beberapa bulan terakhir ini, entah kenapa, saya sering kepikiran soal satu hal yang jarang banget saya sentuh: perjalanan. Bukan perjalanan ke tempat wisata, bukan juga perjalanan batin yang penuh drama ala film-film. Tapi perjalanan yang diam-diam nempel di hidup saya… perjalanan sebuah brand.
Lucunya, setiap kali saya ngeliat Grosir Pie Susu Dhian murah di rak toko atau di tangan wisatawan yang baru mendarat di Bali, ada satu perasaan yang muncul: semacam campuran antara bangga, hangat, dan… tenang. Kayak, “Oh, ternyata sejauh ini ya perjalanannya.”
Tapi rasa itu nggak muncul begitu aja. Saya baru nyadar setelah saya duduk, mikir, dan flashback ke proses panjang yang kadang bikin saya sendiri heran: kok bisa ya sesuatu yang dimulai dari dapur kecil, dari adonan yang diuleni dengan dua tangan, sekarang bisa masuk ke daftar oleh-oleh wajib banyak orang yang liburan ke Bali?
Awalnya saya kira semuanya cuma soal rasa. Tapi setelah saya pikir-pikir lagi, ternyata bukan cuma itu.
Beberapa hari lalu, saya iseng buka catatan lama. Catatan waktu awal-awal Pie Susu Dhian diracik di dapur rumah—bukan dapur besar dengan oven industrial, tapi dapur beneran yang dipakai buat masak harian. Ada momen-momen yang kalau saya inget sekarang bikin ketawa, tapi dulu ya bikin kening berkerut.
Misalnya, ketika percobaan pertama gagal total karena adonan terlalu lembek. Atau saat percobaan kedua terlalu keras sampai kita sepakat bilang, “Kalau dilempar ke tembok, ini pasti mental.” Tapi di balik gagal-gagal itu, ada satu hal yang nggak pernah hilang: hasrat untuk nemuin rasa yang jujur.
Rasa yang nggak dibuat-buat.
Rasa yang… rumah.
Dan saya rasa, itu titik awal kenapa brand ini akhirnya kuat. Karena setiap potong Pie Susu Dhian waktu itu dibuat bukan biar terkenal, bukan biar viral, tapi cuma biar enak. Sesederhana itu.

Lama-lama saya sadar, perjalanan sebuah brand itu mirip perjalanan seseorang. Diawali dari hal kecil yang nggak dianggap penting. Dari kesalahan yang berulang-ulang. Dari momen frustasi yang muncul tiba-tiba. Sampai akhirnya dia berdiri tegak, pelan tapi pasti.
Tapi yang sering luput kita lihat adalah fase di balik layar. Fase ketika seseorang—atau sebuah brand—bertahan di tengah omongan orang, kritik halus, dan komentar pedas. Sama seperti manusia, brand juga punya masa-masa “dibanding-bandingin” sama yang lain.
Ada masanya orang bilang,
“Ah, pie susu mah banyak. Bedanya apa?”
Ada masanya kita diem, nahan, sambil terus uji coba jam delapan malam sampai dini hari, demi dapet rasa yang kita yakin bisa ngomong sendiri tanpa perlu dibela-bela.
Dan ternyata saya belajar satu hal dari situ:
Sesuatu yang lahir dari ketulusan, akan mencari jalannya sendiri.
Kalau saya tarik garis merah, perjalanan Pie Susu Dhian dari resep keluarga ke rak toko bukan cuma perjalanan produk. Tapi juga perjalanan emosi.
Dari rasa takut gagal.
Rasa ragu, takut apa yang kita bikin dianggap biasa aja.
Sampai akhirnya jadi rasa percaya bahwa kalau sesuatu dibuat dengan niat yang bener, hasilnya bakal nemuin tempatnya.
Dan benar aja. Pelan-pelan, para wisatawan mulai kenal. Teman bawa oleh-oleh, saudara ikut pesen, lalu berkembang dari mulut ke mulut. Tanpa gimmick yang berlebihan, tanpa klaim bombastis.
Cuma rasa.
Cuma ketulusan.
Cuma konsistensi.
Lucunya, setiap kali ketemu pelanggan yang bilang, “Pie Susu Dhian tuh beda ya. Lebih halus, lebih creamy, tapi nggak bikin enek,” saya selalu senyum sendiri. Karena cuma tim dapur yang tau betapa panjang perjalanan untuk menemukan tekstur itu.
Ada masa ketika kita nyoba 4 jenis susu berbeda.
Ada masa ketika satu batch harus dibuang karena aroma kurang pas.
Ada masa ketika oven rusak dan kita mesti balik ke teknik manual.
Kadang kalau diinget, saya mikir,
“Ternyata yang sekarang terlihat mudah itu dulu penuh chaos ya.”
Yang paling saya syukuri dari semua ini bukan cuma brand-nya tumbuh, tapi cara brand ini ngajarin saya buat… slow down. Buat sadar bahwa hal baik memang datangnya pelan. Dan pelan itu bukan berarti lambat—tapi mendalam.
Kita sering lupa kalau sesuatu yang kokoh itu biasanya dibangun diam-diam.
Nggak heboh.
Nggak meledak-ledak.
Nggak butuh spotlight.
Dan mungkin itu kenapa, ketika sekarang saya lihat Pie Susu Dhian ada di rak toko oleh-oleh Bali, rasa yang muncul di hati saya bukan bangga berlebihan. Tapi semacam ketenangan.
Kayak perjalanan ini nunjukin bahwa kesabaran itu bukan cuma tentang nunggu hasil.
Tapi tentang terus jalan sambil percaya.
Saya pikir, pada akhirnya, kisah Pie Susu Dhian itu sama seperti kisah perkembangan banyak dari kita. Dimulai dari hal sederhana, dari ruang kecil, dari tangan yang gemetar, dari ragu yang berulang, dari keberanian yang tumbuh pelan-pelan.
Dan ketika akhirnya dia berdiri,
bukan karena dia sempurna,
tapi karena dia terus diperbaiki.
Saya rasa itu juga alasan kenapa Pie Susu Dhian sekarang dianggap salah satu oleh-oleh khas Bali yang layak dicari. Karena dia bukan sekadar produk; dia adalah perjalanan. Perjalanan yang lahir dari kejujuran, kesabaran, dan usaha yang nggak kelihatan.
Dan perjalanan itu masih terus jalan.
Perlahan.
Tapi pasti.
Kalau dipikir-pikir… mungkin itu juga yang bikin rasanya tetap sama sampai hari ini. Karena setiap gigitan masih membawa jejak masa kecil, dapur kecil, dan mimpi yang tumbuh diam-diam.
Dan entah kenapa… itu rasanya hangat banget.
