Beberapa waktu terakhir ini gw sering kepikiran sambil scroll Instagram…
Kenapa ya, ada foto produk yang kelihatannya simpel banget, tapi bikin orang berhenti scroll?
Padahal angle-nya biasa, pencahayaannya gak ribet, bahkan kadang diambil pakai HP.
Tapi kok rasanya “kena”.
Sementara ada juga foto yang udah niat banget, properti seabrek, editan maksimal, tapi lewat aja gitu.
Flat.
Gak ninggalin rasa apa-apa.
Dari situ gw sadar, foto produk itu bukan soal seberapa niat lo motret, tapi seberapa jujur lo nunjukin produknya.
Dan ini relevan banget buat Toko Pie Susu Dhian.
Pie Susu Dhian itu oleh-oleh khas Bali yang karakternya tenang.
Gak lebay.
Gak cari sensasi.
Kalau difoto dengan gaya terlalu heboh, justru kehilangan rohnya.
Makanya, tips pertama dan paling penting menurut gw:
jangan panik.
KESALAHAN PALING UMUM
Orang pengin fotonya langsung kelihatan “jualan”.
Akhirnya apa?
Background terlalu rame.
Tulisan di mana-mana.
Angle dipaksa dramatis.
Padahal, orang buka Instagram itu lagi pengin lihat sesuatu yang enak dipandang, bukan brosur.
Pie Susu Dhian lebih cocok ditaruh di suasana yang terasa hidup, bukan dipajang seperti objek pameran.
TIPS PERTAMA:
Manfaatkan cahaya alami.
Ini klise, tapi masih paling ampuh.
Foto pie susu dekat jendela pagi atau sore.
Cahaya masuk miring.
Bayangannya lembut.
Cahaya alami bikin tekstur kulit pie kelihatan nyata, isi susunya kelihatan lembut, dan warnanya gak bohong.
Lo gak perlu lampu mahal.
Yang penting sabar nunggu waktu.

TIPS KEDUA:
Jangan takut sama meja kayu dan properti sederhana.
Meja kayu, kain polos, piring putih, cangkir teh.
Udah cukup.
Pie Susu Dhian itu kuat kalau dikasih ruang bernapas.
Jangan ditumpukin terlalu banyak properti.
Ingat, fokusnya pie-nya, bukan hiasannya.
TIPS KETIGA:
Tunjukin momen, bukan cuma bentuk.
Kadang foto terbaik bukan pie yang masih utuh, tapi yang udah dipotong.
Isi susunya kelihatan.
Ada remah-remah kecil.
Atau tangan lagi ngambil satu potong.
Atau pie disandingkan sama teh sore.
Hal-hal kecil kayak gini bikin foto terasa manusiawi.
Bukan foto katalog.
TIPS KEEMPAT:
Jangan over-edit.
Ini penting banget.
Kalau warna susunya jadi terlalu putih,
atau kulit pie-nya jadi terlalu cokelat,
itu kelihatan “niat”.
Pie Susu Dhian itu cantik apa adanya.
Edit secukupnya.
Naikin brightness dikit, turunin kontras dikit, beres.
TIPS KELIMA:
Konsisten sama mood.
Mau nuansa hangat?
Ya konsisten hangat.
Mau nuansa tenang?
Jangan tiba-tiba satu foto gelap dramatis, foto berikutnya cerah ngejreng.
Instagram itu galeri.
Kalau mood-nya konsisten, orang betah mampir.
Dan satu hal yang sering dilupain…
CAPTION.
Foto yang bagus tapi caption-nya kaku itu sayang.
Gak harus jualan.
Gak harus hard selling.
Cukup cerita singkat.
Tentang sore hari.
Tentang teman minum teh.
Tentang oleh-oleh yang dibawa pulang.
Karena orang gak selalu beli produk.
Kadang mereka beli perasaan.
Gw jadi sadar,
foto produk yang bagus itu mirip orang yang udah “chill”.
Gak maksa dilihat.
Gak teriak minta diperhatiin.
Tapi justru karena tenang, orang nengok.
Dan Pie Susu Dhian itu tipenya kayak gitu.
Kalau lo fotonya terlalu ribut, dia tenggelam.
Kalau lo kasih ruang, dia bersinar sendiri.
Akhirnya, tips terbaik yang bisa gw kasih cuma satu:
foto dengan niat berbagi, bukan niat pamer.
Kalau lo motret sambil mikir,
“Ini enak loh, gw pengin orang lain ngerasain juga,”
energinya beda.
Dan percaya deh,
orang yang lihat… bisa ngerasa.
